Created on
Rabu, 21 Januari 2026
Category
Kisah Sukses,Ibu,Disabilitas,Modal Usaha,Bantuan Sosial,Cianjur
Author
Sajiwa Foundation
Kisah Sukses Bu Walmi: Perjuangan Ibu Tunanetra dan Dampak Nyata Bantuan Sosial
Bersama #TemanKebaikan
Bu Walmi tak pernah tahu seperti apa warna dunia. Sejak lahir, penglihatannya gelap. Namun dalam gelap itu, ia justru memikul tanggung jawab yang tak ringan: menjadi ibu bagi empat anak, dengan kondisi hidup yang jauh dari kata mudah.
Setiap hari, Bu Walmi berjuang dengan caranya sendiri. Ia berjalan hampir 10 kilometer menyusuri jalanan, menjajakan lauk sederhana yang ia sebut “teman nasi”. Keuntungan dari setiap bungkusnya hanya seribu rupiah. Jika dagangannya laku semua, paling banyak ia membawa pulang dua puluh ribu rupiah. Jika tidak, ia pulang dengan tangan hampa.
Di rumah kontrakan kecil yang kerap tertunggak sewanya, empat anaknya menunggu. Pernah suatu malam, Bu Walmi diusir dari kontrakan karena dua bulan tak mampu membayar. Dengan tubuh lelah dan hati yang hancur, ia menggendong anak-anaknya keluar, tak tahu harus bermalam di mana.
“Semoga nggak kejadian lagi…” ucapnya lirih kala itu.
Perjuangan yang Tak Terlihat Mata
Kehidupan Bu Walmi bukan hanya tentang keterbatasan fisik. Dua dari anaknya memiliki kondisi kesehatan yang membutuhkan perhatian khusus. Yasir (5 tahun) sejak lahir tak bisa berjalan dan berbicara. Sementara Wahyu (2,5 tahun), si bungsu, memiliki gangguan pada penglihatannya. Dua kakaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar pun ikut merasakan kerasnya hidup dari keringat seorang ibu tunanetra.
Setiap pagi, Bu Walmi berangkat berjualan sambil menggandeng Wahyu. Anak sekecil itu harus ikut berpanas-panasan, karena jika ditinggal di rumah, tak ada yang merawat. Dengan langkah hati-hati, ia menyusuri jalanan, sering kali berakhir dengan jatuh, tersungkur, bahkan pulang dengan tubuh penuh luka dan lebam karena menabrak orang atau benda di sekitarnya.

Yang paling menyayat adalah ketika suatu hari, uang hasil jualannya dirampas. Ia dibawa ke tempat sepi, lalu ditinggalkan begitu saja, tanpa uang, tanpa ponsel. Malam itu, anak-anaknya tidur tanpa makan.
Namun di tengah semua penderitaan itu, Bu Walmi selalu berkata satu hal yang tak pernah berubah:
“Gapapa saya menderita… asal anak-anak saya jangan sampai nggak makan.”
Kalimat sederhana itu menyimpan luka yang dalam. Di baliknya, ada ketakutan akan masa depan anak-anaknya. Yasir yang belum pernah mendapatkan terapi, Wahyu yang belum pernah diperiksa matanya, dan kebutuhan hidup yang terus datang tanpa henti.
Harapan Sederhana
Bu Walmi tak pernah bermimpi besar. Harapannya sederhana, ia ingin punya usaha kecil di rumah agar tak perlu lagi berjalan jauh. Ia ingin anak-anaknya mendapatkan perawatan yang layak. Ia ingin hidup sedikit lebih tenang, tanpa harus bangun setiap hari dengan rasa cemas yang sama.
Dan di titik inilah, #TemanKebaikan hadir.
Bukan sebagai penyelamat yang datang sekali lalu pergi, melainkan sebagai bagian dari proses panjang perubahan hidup sebuah keluarga.
Ketika Bantuan Datang, Kehidupan Mulai Berubah
Melalui dukungan para #TemanKebaikan, Bu Walmi dan keluarganya menerima santunan tunai serta bantuan sembako. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada rasa aman dalam hal paling mendasar: makanan. Tak lagi ada kecemasan apakah hari ini anak-anak bisa makan atau tidak.
Tak berhenti di sana, Bu Walmi juga mendapatkan modal usaha. Sebuah langkah kecil, namun sangat berarti. Kini, ia bisa berjualan dari rumah. Tak perlu lagi berjalan jauh menyusuri jalanan sambil menggandeng anak balita. Lebih aman, lebih tenang, dan lebih manusiawi.
Dukungan juga diberikan kepada suami Bu Walmi. Sebuah motor menjadi sarana baru bagi sang suami untuk bekerja sebagai driver ojek. Dengan kendaraan ini, ia bisa mencari penghasilan yang lebih stabil sekaligus membantu mobilisasi keluarga, termasuk ketika harus membawa anak-anak berobat.

Sebagai bentuk ikhtiar jangka panjang, keluarga Bu Walmi juga dibelikan emas untuk tabungan. Bukan sekadar barang, tetapi pegangan masa depan, sesuatu yang bisa diandalkan saat keadaan darurat datang.
Yang tak kalah penting, Yasir dan Wahyu mulai mendapatkan akses pengobatan. Yasir perlahan diarahkan untuk mendapatkan terapi, sementara Wahyu mulai diperiksa kondisi matanya. Harapan yang dulu terasa jauh, kini mulai terbuka.
Kisah Sukses yang Sesungguhnya
Hari ini, hidup Bu Walmi belum sempurna. Perjuangan masih ada. Namun yang berubah adalah caranya menjalaninya. Tak lagi sendiri. Tak lagi sepenuhnya dalam gelap.
Kini, Bu Walmi memiliki usaha di rumah. Keluarganya punya sumber penghasilan yang lebih stabil. Anak-anaknya mendapatkan perhatian kesehatan yang selama ini tertunda. Dan yang paling terasa—rasa aman itu mulai hadir.
Kisah Bu Walmi adalah pengingat bahwa dampak tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan instan. Terkadang, dampak adalah tentang langkah-langkah kecil yang konsisten. Tentang bantuan yang dirancang sesuai kebutuhan. Tentang proses yang dijalani bersama.
Inilah makna #BeneranBerdampak
Bukan hanya memberi, tetapi menemani perubahan.
Bukan hanya membantu hari ini, tetapi membuka jalan untuk hari esok.
Terima kasih, #TemanKebaikan.
Karena kebaikanmu, satu keluarga kini bisa bernapas lebih lega.
Dan di dunia yang gelap bagi Bu Walmi, cahaya itu datang dari banyak tangan yang memilih untuk peduli.