Created on
Senin, 28 September 2026
Category
Kisah Sukses,cerebral palsy,Bantuan Medis,Single Parents
Author
Sajiwa Foundation
20 Tahun Pak Apen Merawat Adah, Sang Ayah yang Tak Pernah Berhenti Berjuang
Sejak lahir, Adah hidup dengan cerebral palsy dan membutuhkan perawatan penuh. Selama 20 tahun, Pak Apen menjadi satu-satunya sosok yang selalu ada untuknya—merawat, mencari nafkah, dan memastikan Adah tetap bertahan.
Ada kalanya seorang ayah tidak punya banyak pilihan selain terus berjalan. Bukan karena jalannya mudah, tetapi karena ada seseorang yang menunggunya di rumah. Begitulah perjalanan Pak Apen, seorang ayah yang selama sekitar 20 tahun merawat putrinya, Adah. Sejak lahir, Adah hidup dengan kondisi cerebral palsy yang membuatnya membutuhkan pendampingan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Di tengah keterbatasan itu, Pak Apen memilih untuk tetap bertahan.
20 Tahun Menjadi Ayah Sekaligus Perawat untuk Adah
Sejak kecil, Adah tidak pernah bertemu dengan ibunya. Sang ibu pergi ketika Adah masih bayi dan tidak pernah kembali. Sejak saat itu, Pak Apen menjadi sosok yang merawat Adah seorang diri. Adah tidak bisa berjalan maupun berbicara seperti anak pada umumnya. Hampir seluruh kebutuhannya membutuhkan bantuan, sehingga kehidupan Pak Apen juga banyak dihabiskan untuk memastikan putrinya tetap terurus.
Bagi Pak Apen, merawat Adah bukan sesuatu yang bisa ditinggalkan begitu saja. Selama bertahun-tahun, ia menjalani peran sebagai ayah sekaligus caregiver bagi putrinya. Dan di sela-sela merawat Adah, ia tetap harus memikirkan satu hal lain: bagaimana mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan mereka berdua.
“Hari Ini Bekerja, Hari Ini Dapat Uang”
Pak Apen tidak memiliki pekerjaan tetap. Ia mengambil pekerjaan apa pun yang bisa dilakukan. Ketika ada orang yang membutuhkan tenaganya, ia bekerja. Ketika tidak ada pekerjaan, tidak ada pula penghasilan yang bisa dibawa pulang. Kondisi tersebut membuat kebutuhan sehari-hari menjadi tantangan tersendiri.
Apalagi Adah membutuhkan perhatian dan perawatan lebih dibandingkan anak lainnya. Namun Pak Apen tetap berusaha. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk seseorang yang sudah selama dua dekade menjadi alasan terbesarnya untuk terus bertahan.
Pernah Hanya Memegang Rp20 Ribu Saat Adah Kejang
Salah satu masa yang paling membuat Pak Apen khawatir adalah ketika Adah mengalami kejang selama sekitar satu minggu. Saat itu, uang yang ada di tangan Pak Apen hanya sekitar Rp20 ribu. Di tengah rasa khawatir dan keterbatasan biaya, ia tetap membawa Adah untuk mendapatkan pertolongan ke puskesmas. Ada ketakutan yang sulit ia sembunyikan.
“Saya takut, hari itu hari terakhir memeluk Adah.”
Bagi seorang ayah, tidak ada yang lebih menakutkan daripada membayangkan kehilangan anak yang selama ini dirawatnya sendiri.
Ketika Rindu Adah Tak Bisa Diucapkan
Adah mungkin tidak bisa mengungkapkan banyak hal dengan kata-kata. Tetapi Pak Apen memahami bahwa ada perasaan yang tetap bisa dirasakan. Salah satunya ketika pembicaraan tentang ibu Adah muncul. Adah pernah menangis ketika ayahnya membicarakan ibunya. Ia bahkan tidak pernah melihat wajah sang ibu.
Pak Apen hanya bisa menemani dan terus berada di sampingnya. Di tengah segala keterbatasan, ia berharap suatu hari Adah bisa menjalani hidup dengan lebih baik.
#TemanKebaikan Hadir untuk Pak Apen dan Adah
Perjalanan Pak Apen dan Adah kemudian mempertemukan mereka dengan #TemanKebaikan. Bantuan yang diberikan tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hari itu, tetapi juga disesuaikan dengan kondisi keluarga Pak Apen.
Mulai dari kebutuhan pangan, kebutuhan rumah tangga, hingga kebutuhan yang mendukung aktivitas mereka sehari-hari. Salah satu bagian yang juga menjadi doa tersendiri bagi keluarga ini adalah dua ekor kambing beserta kandangnya untuk aqiqah Adah. Bukan sekadar bantuan materi, tetapi sebuah kesempatan bagi Pak Apen untuk mewujudkan salah satu harapan yang ingin ia berikan untuk putrinya.
20 Tahun Berjuang, Kini Pak Apen Tak Sendirian
Selama sekitar 20 tahun, Pak Apen merawat Adah dengan apa pun yang ia punya. Ia bekerja ketika ada pekerjaan. Mengurus Adah ketika putrinya membutuhkan. Dan tetap berusaha menjalani hari meskipun keadaan tidak selalu mudah.
Kini, perjalanan mereka belum selesai. Tetapi setidaknya, ada lebih banyak orang yang berjalan bersama mereka. Semoga bantuan yang sampai kepada Pak Apen dan Adah menjadi bagian dari langkah panjang menuju kehidupan yang lebih baik.
Karena terkadang, kebaikan bukan tentang seberapa besar yang diberikan, tetapi tentang bagaimana kebaikan itu hadir tepat ketika seseorang sedang membutuhkannya.
Terima kasih, #TemanKebaikan.
Kebaikanmu telah menjadi bagian dari perjalanan Pak Apen dan Adah. Kamu #BeneranBerdampak
#SajiwaFoundation #GreatPlacetoGive