Created on

Senin, 7 September 2026

Category

Kisah Sukses,Kakek Iis,Ojek Sepeda,Kakek,Bantuan

Author

Sajiwa Foundation

Kisah Kakek Iis, Lansia Tukang Ojek Sepeda Ontel yang Kini Mulai Mendapat Harapan Baru

Di Usia 69 Tahun, Kakek Iis Masih Mengayuh Sepeda Demi Menghidupi Keluarga

 

Di tengah ramainya ojek online dan berbagai moda transportasi modern, masih ada satu profesi yang perlahan mulai ditinggalkan zaman: tukang ojek sepeda ontel. Profesi itulah yang hingga kini masih dijalani oleh Kakek Iis Mamad, seorang lansia berusia 69 tahun yang setiap hari mengayuh sepeda tua demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

 

Bagi Kakek Iis, berhenti bekerja bukanlah pilihan. Sebab di rumah masih ada istri dan putranya, Wahyu, yang kini duduk di bangku SMP kelas 2 dan masih membutuhkan biaya sekolah, buku, hingga perlengkapan belajar. Meski usia tak lagi muda, Kakek Iis tetap berangkat mencari penumpang sejak pukul 08.00 pagi. Bahkan ketika penumpang sangat sepi, ia baru pulang menjelang tengah malam dengan harapan masih ada satu atau dua orang yang membutuhkan jasanya.

 

 

Menunggu Penumpang Berjam-jam, Pulang Tanpa Membawa Uang

 

Menjadi tukang ojek sepeda di zaman sekarang bukanlah pekerjaan yang mudah. Dalam satu hari, Kakek Iis terkadang hanya mendapatkan satu hingga dua penumpang. Bahkan pernah beberapa kali ia sama sekali tidak mendapatkan penumpang.

 

Setiap perjalanan biasanya hanya dihargai sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000, tergantung jarak tempuh. Dengan penghasilan yang tidak menentu itu, Kakek Iis harus memenuhi kebutuhan makan keluarga, membayar kontrakan, hingga membiayai sekolah anaknya. Tak jarang, ketika seharian tidak mendapat penumpang, Kakek Iis memilih menahan lapar hingga malam hari karena belum memiliki uang untuk membeli makanan.

 

 

Tubuh Semakin Renta, Tapi Tetap Harus Mengayuh

 

Usia yang semakin bertambah membuat tenaga Kakek Iis tidak lagi sekuat dulu. Mengayuh sepeda sambil membawa penumpang kini menjadi pekerjaan yang sangat berat. Beberapa kali ia kehilangan keseimbangan hingga terjatuh saat membawa penumpang. Bahkan Kakek Iis juga pernah tertabrak kendaraan lain ketika sedang bekerja.

 

Suatu hari, karena terlalu lelah dan lapar menunggu penumpang, Kakek Iis tertidur di pangkalan. Saat terbangun, sepeda yang menjadi satu-satunya sumber penghasilannya telah hilang dibawa pencuri. Peristiwa itu menjadi pukulan besar bagi Kakek Iis. Sebab tanpa sepeda, ia kehilangan satu-satunya cara untuk mencari nafkah.

 

 

Tinggal di Kontrakan yang Hampir Roboh

 

Perjuangan Kakek Iis tidak berhenti di jalan. Keluarganya tinggal di sebuah kontrakan sederhana dengan biaya sewa sekitar Rp400.000 per bulan. Sayangnya, kondisi rumah tersebut jauh dari kata layak. Atapnya bocor, dindingnya berlubang, dan lantainya mulai rapuh hingga nyaris ambruk.

 

Meski sering menunggak uang kontrakan, Kakek Iis tetap bertahan karena belum memiliki pilihan lain. Tekanan ekonomi yang terus datang bahkan kerap memicu pertengkaran antara Kakek Iis dan istrinya. Bukan karena mereka tidak saling menyayangi, tetapi karena kebutuhan keluarga jauh lebih besar dibanding penghasilan yang dibawa pulang setiap hari.

 

 

Harapan Sederhana Seorang Ayah

 

Di balik semua perjuangannya, Kakek Iis sebenarnya memiliki satu harapan sederhana. Ia ingin berhenti mengayuh sepeda. Bukan karena malas bekerja, tetapi karena tubuhnya sudah tidak lagi kuat. Kakek Iis berharap suatu hari nanti bisa mencari nafkah dengan berjualan dari rumah sehingga tidak perlu lagi menghabiskan tenaga mengayuh sepeda dari pagi hingga malam. Ia juga ingin memastikan putranya tetap bisa bersekolah tanpa harus merasa minder karena pekerjaan orang tuanya.

 

 

#TemanKebaikan Mulai Membuka Jalan Baru untuk Kakek Iis

 

Melihat perjuangan Kakek Iis, ribuan #TemanKebaikan bergerak bersama memberikan harapan baru. Pada 4 Juni 2026, melalui kolaborasi Sajiwa Foundation bersama Bang Heru, bantuan senilai Rp17 juta mulai disalurkan untuk membantu meringankan beban Kakek Iis dan keluarganya. Bantuan tersebut disalurkan secara bertahap agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan yang paling mendesak.

 

Tahap awal bantuan meliputi pemenuhan kebutuhan kesehatan seperti vitamin, suplemen, serta kebutuhan pangan sehari-hari agar kondisi Kakek Iis tetap terjaga di tengah aktivitasnya mencari nafkah. Selain itu, disiapkan pula bantuan modal usaha dan dukungan finansial sebagai langkah awal agar Kakek Iis memiliki kesempatan untuk beralih dari pekerjaan mengayuh ojek sepeda menuju usaha yang dapat dijalankan dari rumah.

 

 

Sebuah Awal Menuju Kehidupan yang Lebih Baik

 

Perjalanan Kakek Iis tentu belum selesai. Masih ada proses pendampingan dan penyaluran bantuan yang akan terus dilakukan agar seluruh program dapat berjalan sesuai rencana dan benar-benar memberikan dampak jangka panjang bagi keluarganya.

 

Harapannya, bantuan yang diberikan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga membuka kesempatan bagi Kakek Iis untuk memperoleh penghasilan yang lebih layak tanpa harus mempertaruhkan kesehatannya setiap hari di jalan.

 

 

Terima Kasih #TemanKebaikan

 

Kebaikan yang diberikan #TemanKebaikan telah menjadi awal dari harapan baru bagi Kakek Iis dan keluarganya. Doakan agar seluruh proses pendampingan dan penyaluran bantuan dapat berjalan dengan lancar, sehingga impian Kakek Iis untuk berhenti mengayuh sepeda di usia senja dan memulai usaha dari rumah dapat segera terwujud.

 

Kami juga akan terus membagikan perkembangan terbaru dari perjalanan Kakek Iis melalui website dan media sosial Sajiwa Foundation. Karena setiap kebaikan yang diberikan bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik di masa depan ❤️

Bagikan Cerita Sajiwa ke Dunia →