Created on
Senin, 7 September 2026
Category
Sajiwa Impact Loop,Pendidikan,Kerja,Jepang,LPK
Author
Sajiwa Foundation
Dari Gap Year hingga Bekerja di Jepang: Kisah Meylani, Peserta Teach for Change by Sajiwa ImpactLoop
Ada masa ketika Meylani merasa dirinya tertinggal. Setelah lulus SMA pada 2024, ia sebenarnya sudah memiliki rencana yang cukup jelas: melanjutkan kuliah, memilih jurusan yang diinginkan, dan mulai membangun masa depan seperti teman-teman seusianya. Namun, rencana tersebut belum bisa diwujudkan saat itu.
Meylani pun menjalani gap year. Awalnya, keadaan tersebut terasa berat. Ketika teman-temannya mulai memasuki dunia perkuliahan, ia harus mengambil jalan yang berbeda. Tetapi, alih-alih berhenti, Meylani memutuskan untuk tetap bergerak. Ia bekerja, menabung, dan mulai belajar bahasa Jepang secara mandiri. Yang tidak diketahui banyak orang, selama hampir dua tahun Meylani diam-diam sedang mempersiapkan sesuatu.
Belajar Diam-Diam, Mengejar Target Sendiri
Tidak ada kelas setiap hari. Tidak ada seseorang yang terus mengingatkan untuk belajar. Meylani hanya memiliki target yang ingin dicapai. Ia memulai bahasa Jepang dari dasar dan mempelajarinya secara mandiri di sela-sela aktivitasnya. Teman-teman terdekatnya bahkan tidak benar-benar mengetahui apa yang sedang ia persiapkan. Di mata mereka, Meylani hanya menjalani hari seperti biasa.
Padahal, di balik itu, ia sedang membangun jalan menuju sesuatu yang bahkan belum pernah ia ceritakan kepada banyak orang. Kerja. Menabung. Belajar bahasa Jepang. Mengumpulkan keberanian untuk mencoba.
Semua dilakukan sedikit demi sedikit. Hingga pada Januari 2025, Meylani berhasil lulus JFT dengan skor 247/250. Dua bulan kemudian, pada Maret 2025, ia kembali mencapai target berikutnya dengan lulus ujian SSW Pengolahan Makanan. Saat itu, Jepang mulai terasa lebih dekat.
Ketika Mimpi Tidak Semudah yang Dibayangkan
Setelah memiliki bekal bahasa dan sertifikasi yang dibutuhkan, Meylani mulai mencari kesempatan job matching untuk bekerja di Jepang. Namun, proses tersebut ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Informasi yang tersedia terbatas. Kesempatan yang sesuai pun tidak mudah ditemukan. Semakin lama proses berjalan, semakin besar keraguan yang muncul.
Sampai akhirnya, sekitar Oktober 2025, Meylani berada di titik ketika ia hampir menyerah. Lalu, sebuah postingan mengubah arah perjalanannya. Ia menemukan informasi tentang Teach for Change, program dari Sajiwa ImpactLoop by Sajiwa Foundation yang membuka kesempatan bagi anak muda untuk mendapatkan pelatihan dan pendampingan menuju dunia kerja di Jepang.
Meylani mencoba mendaftar. Pada November 2025, ia dinyatakan diterima. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama mencari jalan sendiri, langkahnya menuju Jepang mulai memiliki arah yang lebih jelas.
Dari Belajar Sendiri hingga Mendapat Pendampingan
Pada Desember 2025, Meylani mulai masuk LPK dan menjalani proses persiapan yang lebih serius. Perjalanan itu belum selesai. Ia masih harus belajar, mempersiapkan diri, mengikuti berbagai proses seleksi, dan melewati tahapan demi tahapan.
Hingga akhirnya, pada Maret 2026, Meylani berhasil lolos mensetsu. Kemudian pada Juni 2026, COE-nya turun. Dan pada Juli 2026, sesuatu yang selama ini ia perjuangkan akhirnya menjadi nyata.
Meylani terbang ke Jepang. Bukan sebagai perjalanan spontan. Bukan pula sesuatu yang terjadi dalam semalam. Di balik keberangkatannya ada hampir dua tahun belajar diam-diam, bekerja, menabung, mencari kesempatan, menghadapi kegagalan, dan terus mencoba ketika semuanya terasa buntu.
Gap Year yang Ternyata Bukan Kegagalan
Jika kembali ke 2024, mungkin Meylani tidak pernah membayangkan bahwa gap year akan membawanya ke Jepang. Saat itu, ia hanya merasa rencananya tertunda.
Namun hari ini, ia melihat semuanya dari perspektif yang berbeda. Gap year tersebut memberinya waktu untuk bekerja. Untuk menabung. Untuk belajar bahasa Jepang. Untuk mengenal dirinya sendiri. Dan pada akhirnya, untuk menemukan kesempatan yang sebelumnya tidak pernah ada dalam rencana hidupnya. Kuliah bukan gagal. Rencananya hanya tertunda. Dan selama penundaan itu, sebuah jalan baru terbentuk.
Jepang Bukan Akhir Perjalanan
Hari ini, Meylani sudah berada di Jepang dan mulai bekerja. Namun baginya, Jepang bukanlah tujuan akhir. Jepang adalah jembatan. Jembatan menuju kesempatan baru, pengalaman baru, dan mungkin juga mimpi-mimpi lain yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Perjalanan Meylani juga menjadi gambaran dari semangat Teach for Change, salah satu program dalam Sajiwa Impact Loop by Sajiwa Foundation: menghadirkan akses, pendampingan, dan kesempatan agar anak muda dapat mengambil langkah menuju masa depan yang mereka inginkan.
Karena terkadang, jalan menuju masa depan tidak selalu dimulai dari rencana yang sempurna. Kadang, ia dimulai dari sebuah rencana yang tertunda. Dan dari sana, kita menemukan jalan yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan. Perjalanan Meylani baru saja dimulai.